Kebahagiaan dalam Shalat Malam

Sesungguhnya, semua jenis ibadah yang dituntunkan dalam Islam pasti akan membawa kebahagiaan bagi orang yang melakukannya. Karena dengan ibadah seorang manusia akan merasa tenang dan tenteram yang kemudian akan menjadikannya merasa bahagia.

Dan di antara ibadah yang berperan penting dalam mewujudkan kebahagiaan adalah ibadah shalat. Rasulullah n bersabda,

جُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فيِ الصَّلاَةِ

“Telah dijadikan penentram hatiku ada pada shalat.” (Riwayat an-Nasai, dishahihkan al-Albani)

Dalam shalat, seorang hamba akan bisa lebih dekat kepada Penciptanya, dia akan bermunajat dan bersimpuh di hadapan-Nya, meminta, memohon dan merendahkan diri di hadapan Dzat yang menguasai segala sesuatu. Maka tidak heran jika seorang mukmin yang shalat dengan khusyuk, dan sadar bahwa dirinya sedang menghadap Rabbnya, dia akan merasakan ketenangan yang sangat. Terlebih lagi jika shalat itu dilakukan di malam hari, pada sepertiga malam terakhir, di keheningan dan kesunyian malam, tatkala Allah lebih mendekat kepada hamba, tatkala Allah turun ke langit dunia dan berfirman,

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Adakah orang yang menyeruku sehingga Aku akan menyambutnya? Adakah orang yang meminta-Ku sehingga akan Aku beri? Adakah orang yang memohon ampun kepada-Ku sehingga Aku mengampuninya?” (Muttafaq ‘alaih)

Alangkah indahnya, keadaan seorang hamba yang bangun ketika orang-orang terlelap di akhir malam, kemudian dia membersihkan dirinya, mempersiapkan diri untuk menghadap Dzat yang telah memberikan segala kenikmatan kepadanya, lalu dia shalat, mendekat kepada Dzat yang membolak-balikkan hati manusia.

Alangkah bahagianya, orang yang mendapatkan janji Allah akan diijabahi doanya, diberikan permintaannya, dan diampuni dosanya.

Kebahagiaan yang dia dapatkan ketika shalat di waktu malam, sungguh akan mempengaruhi kondisinya di waktu siang. Rasulullah n bersabda,

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Setan membuat tiga simpul ikatan pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika dia tidur. Dia menutup setiap simpulan itu (dengan perkataan) ‘tidurlah, malammu masih panjang’. Jika dia bangun lalu mengingat Allah, terlepaslah satu ikatan. Jika dia berwudhu, terlepas satu ikatan yang lain. Dan jika dia shalat, terlepaslah satu ikatan (yang ketiga). Maka dia pun masuk pagi dalam keadaan penuh semangat, dan dengan jiwa yang baik. Jika tidak demikian, maka dia masuk pagi dengan jiwa yang buruk dan malas.” (Muttafaq ‘alaih)

Lalu, kebahagiaan ini pun akan terus dia dapatkan sampai di akhirat. Allah berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampunan ketika malam menjelang fajar.” (adz-Dzariyat: 14-18)

Maka untuk menggapai kebahagiaan ini hendaknya sepasang suami istri saling bantu untuk melaksanakan shalat yang mulia ini.

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang yang bangun shalat di waktu malam dan membangunkan istrinya. Jika dia (si istri) enggan maka dia memercikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun shalat di waktu malam dan membangunkan suaminya. Jika si suami enggan, maka dia memercikkan air ke wajahnya.” (Riwayat Abu Daud, dll. Dishahihkan al-Albani)

Wallahul Muwaffiq - Sumber Sakinah Majalah


PENJAHAT

Bagi siapa saja yang berhaji, ketika ditanya apakah ingin kembali? Pastilah jawabnya ingin sekali  kembali kesana. Lepas dari apa motivasi ingin kembali, tetapi satu motivasi yang semua jamaah haji pasti setuju, karena disana tidak ada atau minim pornografi. Disana tidak akan kita dapati lelaki perempuan bermesaraan ditempat umum, tidak akan kita dapati perempuan lalu lalang berpakaian seronok mengandung syakhwat setan, bahkan disana tidak akan bisa mengakses internet yang kontent-nya bernuansa porno.

Pemerintah disana sungguh menjaga penduduknya dari tindakan asusila dan kejahatan sex dengan mengawalinya dari pakaian seronok. Disana, wanita yang berpakaian dengan mempertontonkan auratnya dianggap sebagai pelaku kejahatan. Pemerintah menghukum wanita yang sengaja keluar rumah menggunakan pakaian yang tidak syar'i "Seronok" dan itu berlaku untuk semua wanita, baik muslimah maupun kafir. Ini tentu sangat berbeda dengan negara kita tercinta ini, yang predikatnya adalah negeri muslim terbesar didunia. Setiap hari dan dibanyak tempat kita dapati para wanita berpakaian seronok, memperlihatkan lekuk tubuh, belahan dada dan paha, menerawang dan versi lain yang mambangkitkan nafsu.

Jadi cara pandang kejahatan disana dan disini ternyata berbeda. Kejahatan menurut mereka adalah sesuatu yang melanggar aturan Allah, karena pelanggaran aturan Allah itu pastilah merusak, sumber kejahatan, merugikan banyak orang dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan kejahatan lain atau serupa. Sedangkan cara pandang kejahatan disini sebatas apa yang merugikan orang lain yang secara kasat mata saja. Kejahatan yang nyata-nyata bisa mempengaruhi orang untuk berbuat jahat  akan tetapi tidak kasat mata merugikan orang lain, maka di negeri ini bisa tidak dianggap sebagai kejahatan. Padahal sebagaimana kita ketahui ketika ada perempuan berpakaian seronok pastilah banyak mata lelaki mengalihkan pandangan ke-arahnya.

Bagi anak kecil tentu hal ini menjadikan pelajaran yang membekas baginya bahwa berpakaian seperti itu adalah hal yang baik juga, toh tidak ada yang mempermasalahkan mereka berpakaian seperti itu. Maka munculah pembelajaran lingkunan yang pertama bagi anak kecil tentang sikap permisif terhadap keseronokan.

Bagi para remaja tentu pakaian seronok akan menghasilkan khayalan yang bisa berkembang lebih jauh lagi. Dan karena para remaja ini mempunyai ke-ingin-tahuan yang besar maka hal demikian akan memicu keinginan bereksplorasi kepada para pacarnya. Tidakkah ini akan memicu maraknya perzinahan dikalangan remaja?

Bagi para bapak yang sudah beristri pun hal ini bisa memunculkan khyayalan yang bukan-bukan, dan karena biasanya mereka yang berpakaian seronok mempunyai tubuh dan wajah yang mampu membagkitkan syahwat, maka ketika para bapak ini membandingkan dengan yang ada dirumah tentu memunculkan pemandangan yang tidak berimbang yang memicu pula rasa ke-irian. Bukankah iri akan memicu keinginan untuk memiliki apa yang menjadi milik orang lain? Tidakkah hal ini akan memicu maraknya perselingkuhan?

Lebih parah lagi jika ada wanita lain yang menirunya karena ia melihat ternyata berpakaian seronok itu bisa menarik perhatian para lelakai kebanyakan, maka sedikit demi sedikit maraklah para wanita yang berpakaian seronok yag makin memarakkan permisifme seronok dalam kehidupan di negeri ini, memicu sex bebas, memicu perselingkuhan. Bukankah kehidupan yang makin rusak telah menjadi predikat di negeri ini?

Seandainya pemerintah atau masyarakat memahami arti kejahatan sebagaimana perintah syari'at Arab Saudi memahami kejahatan tertama dalam permasalahan pornogragi, tentu negeri ini tidak akan panas, pastilah negeri ini menjadi negeri yang adem. Bukan berarti semua orang diharuskan memakai jilbab sebagaimana disana, karena sulit untuk melakukan yang demikian, tetapi paling tidak budayakan dan berilah negeri ini aturan tentang cara ber-pakaian yang sopan dan baik ketika keluar rumah demi rakyat banyak, rakyat Indonesia.

Mungkin yang sebaiknya kita lakukan bukanlah menunggu pemerintah atau masyarakat sadardiri, tetapi mari kita mulai dari diri kita (ifta' bi nafsi) keluarga kita, anak istri kita, saudara kita dan lingkungan kita, untuk berpakaian yang sesuai syar'i atau minimal janganlah yang seronok dan tabarujj yang bisa mengundang keburuka bagi orang lain. Bukankah syetan selalu hadir disekitar kita untuk terus mendorong manusia berbuat kejahatan***

#sadardiri.

MODIN KAMIDI

Saya pernah melontarkan pertanyaan sesama peserta kajian, bahwa orang yang tidak belajar aqidah pastilah sedikit atau banyak ia akan berbuat kesyirikan, kekufuran, atau melakukan perbuatan baik hati atau fisik, yang merusak ke-imanannya. Minimal, kesyirikan atau kekufuran itu skalanya kecil, atau seminim-minimnya lagi, ia tidak melakukan perbuatan yang dalam konteks aqidah adalah keharaman.

Tanpa menunggu pertanyaan kenapa bisa demikian, kita jelaskan alasannya. Karena bagaimana seseorang dalam kehidupannya bisa lepas dari jerat kesyirikan dan kekufuran atau keharaman aqidah, bila ia tidak paham apakah perbuatan dan keyakinannya itu termasuk menyimpang atau melanggar norma aqidah. Sebab ia tidak belajar aqidah maka ia tidak memahami aqidah, dan perbuatannya pun pasti menyimpang dari aqidah.

Adalah Kamidi, seorang yang katanya modin itu telah memimpin acara pemberkatan Gereja Santo Fransiscus Xaverius di daerah Semarang utara pada pertengahan desember lalu. dlam acara pemberkatan gereja itu diadakan dengan acara sebagaimana biasa ia mengadakan acara selamatan atau kenduren. Alasan yang dikemukakan adalah masalah klise, yaitu untuk kerukunan umat beragama (toleransi) Padahal seandainya sang modin tahu siapa santo Fransiskus Xaverius, boleh jadi ia akan menyesal seumur-umur. Lagi pula apakah ia tidak pernah membaca atau belajar bahwa amalannya itu oleh para ulama sangat diharamkan? Bukankah Nabi, para sahabat, para imam, dan para ulama telah melarang hal demikian? Bukankah sangat banyak hadits, atsar dan pendapat ulama sejak dulu hingga sekarangn yang mengharam hal seperti itu???

Lebih-lebih Santos Fransiskus Xaverius adalah orang yang benci terhadap Islam dan sangat berjasa memurtadkan banyak umat Islam. Ini sedikit cuplikan sejaran sang Santo FX sebagaimana dinukil dari buku "Be my Witness to be End ot the Earth the catolic Church in Indonesia before the 19th century" Adolf Heuken SJ, Jakarta : Cipta loka caraka, 2002. Ia mengatakan :"Islam adalah sekte jahat karangan muhammad" Ia juga mengatakan : "Umat islam adalah umat yang tidak paham tentang agamanya. "Ia juga mengatakan : "Jika maluku dikirimkan misi, maka umat islam disana bisa dihancurkan."

Bagaimana mungkin seorang muslim memberkati atau merstui... bersambung