Tausyah

Bahagia Dengan Shalat Malam

Kebahagiaan memang menjadi idaman setiap insan. Bagi muslim, kebahagiaan akan sempurna jika dia mendapatkan kebahagiaan di dua alam sekaligus, dunia dan akhirat.

Banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang merasa bahagia. Pada umumnya, seorang manusia akan merasa bahagia ketika dia mendapatkan apa yang diinginkan oleh jiwanya. Seorang anak yang menginginkan kasih sayang orang tua, akan merasa bahagia ketika bersama dengan mereka. Penyandang sakit yang menginginkan kesehatan tubuhnya, akan merasa bahagia ketika mendapatkan kesembuhannya kembali. Dan begitu seterusnya, kebahagiaan seseorang pada umumnya sesuai dengan apa yang menjadi keinginan jiwanya.

Yang menjadi masalah, jika jiwa manusia adalah jiwa yang buruk, selalu menginginkan perkara-perkara yang buruk dan bertentangan dengan syariat. Maka, meski seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan ketika memenuhi keinginan jiwanya, namun pada hakikatnya dia tidak benar-benar merasa bahagia. Itu hanyalah kebahagiaan semu. Adapun kebahagiaan hakiki, hanya akan diperoleh ketika manusia mendapatkan sesuatu yang selaras dan sesuai dengan fitrahnya.

Manusia adalah makhluk yang lemah dan selalu butuh kepada yang lain, sehingga dia pasti akan bergantung kepada yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Jika manusia menggantungkan dan menyandarkan hajatnya tersebut kepada sesama makhluk, maka dia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan hakiki. Karena semua makhluk pasti memiliki kekurangan, dan semua makhluk pasti binasa.

Akan tetapi, ketika manusia menyandarkan hajatnya hanya kepada Dzat yang Maha hidup, Maha kaya dan berkuasa atas segala sesuatu, maka itulah sebab utama ketentraman dan kebahagiaannya. Dengan demikian, secara fitrah, jiwa manusia pasti akan merasa tenang, tenteram dan bahagia ketika mengingat, mendekat, dan meminta hanya kepada Dzat yang maha kuasa.

Allah ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28)